Jaksa Patahkan Nota Pembelaan Bahar bin Smith

Posted by:

Bandung Jejaknews – Jaksa Penuntut Umum Kejari Bogor menolak pembelaan Bahar bin Smith dalam kasus penganiayaan dua remaja. Jaksa meyakini perbuatan terdakwa sudah memenuhi unsur pidana dan pantas dituntut hukuman enam tahun penjara.

Hal itu disampaikan dalam sidang replik yang digelar Pengadilan Negeri (PN) Bandung di Gedung Arsip dan Perpustakaan, Jalan Seram, Kota Bandung, Senin (24/6).

“Kami dengan tegas menolak nota pembelaan. Kami menyatakan tetap pada surat tuntutan dengan harapan majelis mempertimbangkan surat tuntutan kami,” ucap jaksa.

Menurutnya, pembelaan yang diuraikan pihak Bahar bin Smith pada pekan lalu sudah terjawab dalam surat tuntutan. Tim penasihat hukum dinilai keliru dan kurang menangkap tuntutan akibat perbuatan yang dilakukan Bahar bin Smith saat didakwa menganiaya dua remaja Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi alias Zaki.

Pihak jaksa menegaskan bahwa fakta hukum yang disampaikan sudah sesuai fakta persidangan dalam surat tuntutan pidana. Adapun empat saksi meringankan yang dikeluhkan pihak Bahar karena tidak termuat dalam tuntutan, jaksa menyebut karena keterangannya tidak berkaitan dengan penganiayaan.

“Saksi meringankan itu hanya menjelaskan kejadian di Bali, bukan perbuatan penganiayaan yang sesuai dengan dakwaan jaksa, tidak dapat menghapuskan tindak pidana terdakwa kepada korban,” ucap jaksa.

Sementara itu terkait usia korban Zaki yang dianggap sudah dewasa, jaksa berpegang pada Pasal 1 angka (1) Undang-undang 35 tentang perlindungan anak. Dalam ayat tersebut tertuang batas usia anak adalah 18 tahun.

Bukti surat kartu keluarga yang disampaikan Disdukcapil bahwa korban lahir 13 Desember 2001 dan kejadian 1 Desember 2018. Sesuai pendapat ahli, setelah pengecekan SIAK (Sistem Informssi Administrasi Kependudukan) didapat saksi korban Zaki adalah anak dan belum mencapai 18 tahun.

Jaksa pun menolak pembelaan Bahar terkait tidak ada niatan menganiaya saat meminta anak buahnya menjemput korban ke pesantrennya. Pasalnya di sana korban dianiaya oleh Bahar maupun santri-santrinya.

“Di ponpes saksi korban disuruh berkelahi dan rambutnya dibotaki dengan diawasi oleh santri-santrinya,” kata jaksa.

“Sehingga ini bukan sendiri-sendiri tapi rangkaian yang berkesinambungan bersama-sama terdakwa dan pelaku lainnya,” tuturnya.

Berkaitan dengan pernyataan kuasa hukum Bahar yang menyebut kasus ini dipaksakan oleh pihak tertentu dibantah oleh jaksa. Karena, penanganannya sudah melalui proses penyidikan.

“Itu untuk mencari kesalahan atau kambing hitam tidak beralasan. Jaksa penuntut umum konsisten menjalankan tugas dan wewenang tanpa dipengaruhi golongan,” terangnya.

Dalam sidang pleidoi pekan lalu, pengacara menilai tuntutan jaksa tidak serius lantaran hanya mengambil dari BAP ditambah teori tambahan tanpa niat mengurai unsur delik. Menurutnya, tuntutan itu spekulatif tanpa didukung bukti dan banyak kesimpulan sepihak dengan penafsiran yang tanpa didukung bukti yang sah.

Di sisi lain, Jaksa Penuntut Umum meminta hakim menghukum Bahar kurungan penjara 6 tahun dan denda Rp 50 juta. Apabila tidak dibayar, diganti kurungan 3 bulan penjara.

asp/ddg

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.