Kelompok Pemberontak Yaman Terbelah dan Saling Serang

Posted by:

Sanaa Jejaknews – Perang saudara sudah berkecamuk di Yaman selam tiga tahun memasuki babak baru. Kabarnya kelompok pemberontak Ansar Allah, atau juga dikenal dengan Huthi, pecah kongsi dengan pasukan mantan Presiden Ali Abdullah Saleh.

Penyebabnya adalah Saleh yang tadinya mendukung kelompok Huthi mendadak berpaling, dan menyatakan siap berunding dengan koalisi pimpinan Arab Saudi. Hal itu membikin kelompok Huthi berang dan menganggap Saleh berkhianat. Pertikaian antara kedua kelompok yang mulanya mesra pecah di Ibu Kota Sanaa sejak Minggu pekan lalu.

Dilansir dari laman Reuters, Senin (4/12), pertempuran antara pemberontak Huthi dan pasukan yang setia kepada Saleh terjadi di jalanan kota Sanaa. Namun, kelompok Huthi berhasil memukul mundur dan merebut sejumlah wilayah semula dikuasai serdadu binaan Saleh, salah satunya bandara.

Menurut Komite Palang Merah Dunia, dalam baku tembak sengit antara kedua belah pihak itu menelan 125 korban jiwa, dan melukai 238 lainnya. Keadaan itu semakin parah karena pasukan koalisi Arab Saudi menggempur basis pemberontak Huthi di Sanaa menggunakan jet tempur.

Bahkan kabarnya kelompok Huthi meledakkan rumah Saleh di Ibu Kota Sanaa. Melalui stasiun radio mereka mengklaim kalau mantan orang nomor satu di Yaman itu sudah tewas. Namun, kubu Saleh menyangkalnya.

Kelompok Huthi juga mengirim bala bantuan dan senjata dari markas mereka di sebelah utara Yaman. Mereka turut menduduki rumah tangan kanan Saleh yang didapuk menjadi Menteri Dalam Negeri Yaman, Muhammad Abdullah al-Waqsi. Tiga ajudannya dibunuh dan staf lainnya ditawan. Kediaman kemenakan Saleh yang seorang jenderal, Tareq, juga diduduki, dilansir dari laman AFP.

Pemberontak Huthi juga membunuh kepala suku di wilayah Omran, Muhammad al-Zarka, dan membantai keluarganya. Al-Zarka dikenal sebagai orang dekat Saleh. Kini dikabarkan pasukan Huthi bergerak ke desa tempat kelahiran Saleh di luar Ibu Kota Sanaa.

Kelompok Ansar Allah atau Huthi didirikan oleh Hussain Badruddin al-Huthi, di wilayah Sa’dah, Yaman Utara, pada 1990-an. Gerakan politik keagamaan itu mulanya memang kental dengan Zaidi dan Syiah, tetapi belakangan juga merangkul kaum Sunni.

Setelah Saleh menyatukan Yaman Utara dan Yaman Selatan pada 1990, kelompok Huthi tetap tidak mau tunduk. Dalam masa pemerintahan Saleh tercatat enam kali terlibat perang dengan Huthi yang didukung oleh Iran, dan menewaskan Hussain. Kini kelompok itu dipimpin adik Hussain, Abdul Malik al-Huthi.

Setelah 33 tahun memimpin, Saleh lengser lima tahun lalu karena tekanan rakyat dan politik seiring dengan gelombang reformasi di Jazirah Arab (Arab Spring). Dia lantas mengalihkan tampuk kekuasaannya kepada sang wakil, Abdrabbuh Mansur Hadi.

Hanya saja tiga tahun lalu kelompok Huthi kembali memberontak dan berhasil menguasai Ibu Kota Sanaa, dibantu Saleh. Padahal di masa lalu kedua belah pihak itu justru bertikai. Hadi yang menjabat presiden terpaksa lari ke Arab Saudi, merupakan sekutunya. Yaman kini seolah menjadi ajang pertunjukan kekuatan antara Arab Saudi yang beraliran Sunni dengan Iran yang merupakan Syiah.

mey/nta

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.