Krisis Teluk: Apakah Kita Sedang Menuju ke Perang Tanker Baru?

Posted by:

Teheran Jejaknews – Kapal tanker yang terbakar di kawasan Teluk, kapal perang Amerika menjawab panggilan darurat, dan retorika perang yang menimbulkan ketakutan akan konflik yang besar.

“Perang tanker” adalah satu momen tegang internasional yang menegangkan pada saat-saat akhir perang antara Iran dan Irak. Iran baru saja menjalani Revolusi yang bersejarah, sementara Irak sedang dipimpin oleh Saddam Hussein.

Kedua pihak saling menyerang fasilitas minyak mereka, sejak pertengahan 1980-an.

AS akan kerahkan pasukan tambahan di tengah ketegangan dengan Iran
Trump menuduh Iran melakukan serangan dua kapal minyak di Teluk Oman
Iran tembak jatuh pesawat nirawak AS, Trump: Iran buat ‘kesalahan besar’

Kapal-kapal netral kemudian diserang juga, ketika pihak yang bertikai mencoba memberi tekanan ekonomi kepada lawannya.

Tanker Kuwait yang membawa minyak Irak amat rentan untuk diserang ketika itu.

Amerika Serikat di bawah Ronald Reagan enggan untuk terlibat. Namun ketegangan kawasan Teluk mulai membahayakan. Ini ditandai ketika kapal perang Amerika USS Stark terkena hantaman rudal Exocet dari sebuah pesawat tempur Irak, sekalipun pejabat Irak menyatakan itu merupakan ketidaksengajaan.

Bulan Juli 1987, tanker Kuwait, memakai bendera Amerika, dikawal melalui kawasan Teluk oleh kapal perang Amerika. Pada masanya, ini merupakan konvoi kapal terbesar semenjak Perang Dunia Kedua.
Kapal tanker berbendera Jepang dan helikopter dengan lencana Angkatan Laut AS di bagian ekor

Pada masa itu, Amerika dan Iran sedang berhadap-hadapan.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Khomeini, menyebut Amerika “Setan Besar” sejak Revolusi Islam di negeri itu tahun 1979.

Washington masih merasa kesal melihat 52 orang diplomat mereka disandera selama 444 hari di Teheran dari tahun 1979 hingga 1981.

Sekalipun Iran dan Irak bertanggung jawab terhadap krisis saat itu, perang tanker segera menjadi bagian dari pertengkaran jangka panjang antara Iran dan Amerika.

Pertengkaran ini belum hilang dan muncul sekali lagi di tengah keputusan Donald Trump untuk menerapkan “tekanan maksimum” setelah meninggalkan kesepakatan nuklir dengan Iran yang dibuat tahun 2015.

Amerika Serikat-Iran bersitegang, mengapa PM Jepang berkunjung ke Iran?
‘Aktor negara’ dituding berada di balik serangan empat kapal minyak di Uni Emirat Arab

Kini sekali lagi, perairan di kedua sisi dari Selat Hormuz menjadi arena persaingan kedua negara.

Adakah yang berbeda dari konflik yang lama?

“Kedua pihak telah mengembangkan kemampuan tempur mereka,” kata Dr. Martin Navias, penulis buku tentang perang tanker.

Iran, katanya, kini lebih pandai memakai ranjau, kapal selam dan perahu berkecepatan tinggi untuk menyerang dan merusak kapal komersil dan militer.

Ini tidak hanya di laut. Kemampuan Iran untuk menembak jatuh pesawat nirawak Amerika memperlihatkan kemampuan perang yang meningkat.

mey/nta

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.