Menlu Ungkap 8,7 Juta Orang di Dunia Kena Corona, Bicara Kerja Sama Vaksin

Posted by:

Jakarta Jejaknews – Menlu Retno Marsudi mengungkap data terbaru mengenai warga dunia yang terjangkit virus Corona (COVID-19). Ia juga mengungkap soal kerja sama Indonesia dengan sejumlah pihak dalam pengembangan vaksin Corona.

“Berdasarkan laporan WHO tanggal 21 Juni maka terdapat 215 negara dan territory yang terjangkit COVID-19. Lebih dari 8,7 juta orang yang terpapar COVID-19 dan angka kematian melebihi 461 ribu orang,” ujar Retno dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR yang disiarkan langsung di akun Komisi I DPR RI, Senin (22/6/2020).

Retno juga merinci laporan WHO tentang 10 negara dengan kasus Corona terbanyak. Negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat, Brasil, Rusia, India, Inggris, Spanyol, Peru, Italia, Chili, dan Iran. Ia menyebut Indonesia hingga saat ini masih terus bekerja untuk mendukung penanganan Corona melalui kerja sama dan kolaborasi.

“Terkait obat-obatan, Indonesia merupakan salah satu negara yang berpartisipasi dalam global solidarity trial yang mencobakan beberapa jenis obat-obatan untuk menangani COVID-19. Empat jenis obat-obatan yang diujikan oleh WHO yaitu (jenis pertama) remdesivir, (jenis kedua) chloroguine dan hydroxychloroquine, (jenis ketiga) lopinavir dan ritonavir, (jenis keempat) lopinavir, ritonavir, dan interferon,” paparnya.

“Terdapat 22 rumah sakit di Indonesia yang ikut dalam solidarity trial tersebut dan uji coba ini akan selesai pada bulan Juli mendatang. Mengenai hasil solidarity trial dan obat-obatan merupakan ranah Kemenkes. Ranah kami di Kemlu ingin memastikan langkah diplomasi dapat memfasilitasi produksi di dalam negeri sehingga akses kita semakin baik,” tambah Retno.

Mengenai vaksin, Indonesia diketahui mengambil 2 langkah strategi. Pertama melalui konsorsium di Indonesia kerja sama sejumlah lembaga, instansi, dan kementerian. Konsorsium nasional ini tengah mengembangkan vaksin protein recombinant dari virus Corona yang ditemukan di Indonesia.

“Strategi kedua yaitu melalui kolaborasi internasional dalam pengembangan dan produksi vaksin,” kata Retno.

Menurut Menlu, perusahaan farmasi nasional melakukan penjajakan kerja sama dengan beberapa negara untuk mengembangkan produski vaksin. Pengembangan itu baik dari platform inactivated virus yang sudah pada tahap uji klinis tahap 3 maupun rekayasa DNA pada tahap uji klinis tahap kedua.

“Apabila bicara isu vaksin tidak terhenti pada isu pengembangan dan produksi namun juga akses, terutama bagi negara-negara berkembang dan negara-negara dengan pendapatan rendah. Oleh karena itu pesan yang perlu disampaikan ke dunia adalah mengenai accessibility dan affordability dari vaksin tersebut pada saat vaksin sudah ditemukan,” urai Retno.

“Dalam kaitan ini, sudah beberapa bulan ini diplomasi Indonesia secara konsisten menyuarakan mengenai isu mengenai isu accessibility dan affordability vaksin. Dalam beberapa forum baik dalam tingkat kepala negara maupun tingkat menteri luar negeri isu ini selalu dibicarakan Indonesia. Isu ini kita terus bicarakan di semua pertemuan kita dengan pihak luar,” sambungnya.

mey/nta

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.