Produsen Medis Buang Alat Swab usai Dikunjungi Trump

Posted by:

Amerika Serikat – Perusahaan alat medis asal Amerika Serikat membuang seluruh produk alat swab yang telah diproduksi setelah kunjungan Presiden Donald Trump.

Pihak perusahaan mengatakan keputusan untuk membuang alat swab karena banyaknya orang dalam rombongan yang berkunjung, termasuk pejabat pemerintah, personel keamanan, dan media.

“Produksi terbatas dengan menggunakan mesin untuk mengurangi periode demo produk selama 15 menit saat presiden secara aktif berkeliling di lokasi manufaktur kami,” tulis pihak perusahaan dalam sebuah pernyataan yang diunggah melalui Twitter pada Selasa (9/6).

“Kami melakukan pembersihan fasilitas lengkap yang diperlukan.”

Dikatakan pula selepas junjungan Trump, semua alat swab yang diproduksi untuk keperluan pengujian Covid-19 juga disterilkan pasca-produksi.

Perusahaan yang berbasis di Maine, AS itu juga memutuskan untuk mengubah jadwal produksi dari Jumat ke akhir pekan untuk menghindari kerugian akibat pembuangan alat swab.

Puritan Medical Products belum memberi penjelasan lebih lanjut. Pihak Gedung Putih juga menolak mengomentari keputusan tersebut.

Pasokan medis menjadi salah satu masalah utama AS di tengah upaya menangani virus corona. Lonjakan permintaan alat medis termasuk alat pelindung diri dan alat swab terjadi seiring dengan peningkatan kasus corona.

Selama melakukan kunjungan, Trump menganggap enteng pedoman menjaga jarak untuk menghindari penularan virus. Dalam sebuah kesempatan, Trump bahkan berfoto dengan seorang karyawan pabrik dan keduanya tidak mengenakan masker.

Dalam sambutannya selama kunjungan, Trump menuturkan pemerintahannya telah mengucurkan dana sebesar US$75 juta dalam bentuk pendanaan UU Produksi Pertahanan untuk meningkatkan output perusahaan.

Trump juga mengklaim jika perusahaan pembuat alat swab akan menggandakan jumlah produksi alat swab menjadi 40 juta per bulan. Menurut perkiraan, jumlah tersebut akan meningkat menjadi 60 juta alat swab.

Tak hanya itu, selama kunjungannya Trump kerap mengklaim jika pemerintahannya berhasil menangani penyebaran virus corona dan menyebut telah menyelamatkan ribuan nyawa.

Amerika Serikat saat ini masih menjadi negara dengan kasus dan kematian tertinggi akibat virus corona di seluruh dunia. AS memiliki 2.066.508 kasus dan 115.137 kematian.

Trump sempat meminta pemimpin negara bagian untuk melonggarkan aturan lockdown kendati hingga kini kasus baru virus corona terus mengalami penambahan.

mey/nta

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.