Jalan Jatibaru tak Dibuka, Sopir Angkot Somasi Gubernur DKI

Posted by:

Jakarta Jejaknews – Sopir angkot yang biasa beroperasi di wilayah Tanah Abang melayangkan somasi untuk Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Perwakilan sopir angkot dan kuasa hukum mendatangi Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat pada Rabu (7/3).

Dalam somasinya, para sopir angkot meminta Anies membuka kembali Jalan Jatibaru Raya yang dalam beberapa bulan terakhir ditutup dari pukul 08.00 sampai 18.00 WIB. Karena Pemprov DKI menggunakan jalan tersebut untuk mengakomodir para PKL.

“Buka jalan itu. Saya sudah lama menunggu. Saya dikasih program OK OTrip ini. Program ini tidak sesuai dengan anak-anak (para sopir),” jelas perwakilan sopir angkot, Abdul Rosyid.

Para sopir yang protes ini khusus sopir mikrolet M08 rute Tanah Abang-Kota. Jika Anies tak menggubris soal somasi itu, maka pihaknya akan membawa persoalan ini ke jalur hukum.

Tidak sesuainya program OK OTrip disampaikan Rosyid karena jarak tempuh ditargetkan 190 kilometer. Sementara trayeknya tak sampai pada angka itu.

“Satu ritase saya 10 kilometer. Kalau setengah hari lima kali keliling cuma 50 kilometer. Kalau pagi sampai sore paling 10 kali. Armada itu ada 260 unit di trayek saya, tapi untuk OK OTrip cuma 90. Sisanya kemana?” jelasnya.

Untuk pengaturan rute ulang (rerouting) menurutnya hanya lagu lama. Menurutnya tak bisa juga dilaksanakan karena trayeknya belum jelas kemana.

“Saya kan trayeknya Tanah Abang-Kota. Pemerintah mengeluarkan program ini udah harus klop, udah tinggal kita terima bersih. Bukan yang banyak ganjalan di bawah. Makanya saya perjuangkan, saya bilang OK OTrip ini tidak sesuai,” ujarnya.

Seharusnya, kata Rosyid, sebelum program OK OTrip diluncurkan, harus ada persetujuan dari semua sopir. “Itu yang saya bilang. Sisa armadanya mau dibeli atau gimana? Program ini harus jelas,” kata dia.

Gaji untuk sopir yang ikut program OK OTrip juga menurutnya kecil. Ia memaparkan hitungan gaji yang didapatkan harus 190 kilometer dan dikalikan Rp 4.000 per kilometer. “Memang nyampe Rp 600 ribu. Tapi dengan trayek saya, enggak nyampe. Sehari cuma 100 kilometer,” ucapnya.

“Gaji itu dari penghasilan kita per kilometer. Kalau enggak nyampe ya enggak. Sebelum menerapkan lihat dulu gimana. Kalau dia menerapkan itu, lihat dulu bagaimana,” lanjutnya.

Walaupun ritasenya kemudian diturunkan jadi 170 kilometer, Rosyid mengatakan tetap tak bisa mencapai target. Soal gaji, juga tak akan mencukupi karena harus dibagi lagi dengan uang untuk BBM.

(**)/rta

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.