Istana Akui Tiada Kontrol Perkembangan Siswa Belajar di Rumah

Posted by:

Jakarta Jejaknews – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyatakan ketiadaan kontrol dari guru ke siswa menjadi kekurangan program Belajar dari Rumah atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tengah pandemi virus corona (covid-19).

Moeldoko menilai selama ini belum ada mekanisme pengawasan PJJ untuk memastikan siswa berkembang dan benar-benar memahami pelajaran yang disampaikan guru selama belajar dari rumah.

“Perlu instrumen dari guru untuk menjadi alat kontrol atas pengembangan anak-anak yang belajar dari rumah. Ilmu guru sampai apa tidak, anak di rumah sungguh belajar atau tidak,” ujar Moeldoko dalam Webinar Nasional tentang PJJ Sebagai Role Model Pembelajaran Utama di Era New Normal, Rabu (3/6).

Kekurangan lain, lanjut Moeldoko, adalah pendidikan karakter yang diajarkan pada siswa. Peran guru dinilai makin berkurang dalam mengajarkan pendidikan karakter sejak penerapan PJJ beberapa bulan terakhir.

You may also like

Namun sisi positifnya, kata dia, orang tua dapat berperan maksimal mengajarkan pendidikan karakter pada anak selama di rumah.

“Pendidikan karakter yang tadinya saling lempar antara orang tua dengan guru, setelah belajar dari rumah peran orang tua jadi semakin menonjol,” katanya.

Mantan Panglima TNI ini menuturkan kemungkinan penerapan PJJ berlanjut dalam jangka waktu yang cukup lama. Pihaknya mengaku telah mengantisipasi kesiapan infrastruktur jaringan internet yang selama ini kerap dikeluhkan dalam proses PJJ.

“Pemerintah sudah memikirkan itu sebaik-baiknya, khususnya dari sisi keluhan infrastruktur, Menkominfo sudah memahami itu,” ucap Moeldoko.

Dia menilai perlu evaluasi mendalam terkait penerapan PJJ selama ini untuk menjadi instrumen baru yang digunakan sebagai alat kontrol bagi siswa yang belajar di rumah.

“Saya berharap pengalaman saat ini menjadi bahan evaluasi ke depan sehingga kita bisa menata instrumen yang digunakan sebagai alat kontrol apakah betul-betul belajar. Ini harus dikontrol ketat. Jangan sampai ngajar melulu, tapi ilmunya tidak tertransformasi,” jelasnya.

Hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan penerapan PJJ membuat minim interaksi antara guru dengan siswa.

Sebanyak 79,9 persen siswa mengaku tak ada interaksi sama sekali kecuali memberikan tugas dan menagih tugas, tanpa ada interaksi belajar seperti tanya jawab langsung atau aktivitas guru menjelaskan materi.

Survei ini melibatkan 1.700 responden siswa, dari jenjang SMA hingga TK di 20 provinsi dan 54 kabupaten/kota. Survei menggunakan teknik multistage random sampling yang dilakukan dalam kurun waktu 13 April sampai 20 April 2020.

Dari siswa yang menyebut guru berinteraksi selama belajar dari rumah itu, komunikasi dilakukan menggunakan sarana pesan singkat atau aplikasi pesan 87,2 persen, zoom meeting 20,2 persen, video call WhatsApp 7,6 persen dan telepon 5,2 persen.

Selama kegiatan belajar dari rumah ini, sebanyak 73,2 persen siswa merasa berat mengerjakan tugas dari para guru. Sementara 26,8 persen mengaku tidak berat dengan penugasan yang diberikan para guru.

dwi/fer

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.