Istri Duga Surya Anta Idap ISPA dan Tak Dirawat dengan Wajar

Posted by:

Jakarta Jeajknews – Istri Juru Bicara Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) Surya Anta, Lucia Fransisca menyebut suaminya mendapat perlakuan berbeda saat menjalani pemeriksaan di klinik Rumah Tahanan Salemba, Jakarta.

Seperti diketahui, Surya Anta dan lima mahasiswa Papua yaitu Issay Wenda, Arina Lokbere, Charles kossay, Ambrosius Mulait dan Dano Tabuni telah dipindahkan dari Rutan Mako Brimob.

“Dokter periksa Surya, tapi bukan sebagai pasien yang normalnya diperiksa dokter. Jaraknya jauh [tanpa pemeriksaan fisik], emang Surya apa?” kata Lucia kepada wartawan saat ditemui usai sidang praperadilan di PN Jaksel, Selasa (2/12).

Lucia menjelaskan, dirinya telah mengunjungi Surya pada Jumat (29/11) lalu. Ia mendapati Surya dan juga rekan tahanan Papua lainnya sedang sakit namun tidak mendapat perawatan yang sewajarnya.

Ia pun menduga Surya mengidap penyakit ISPA atau demam berdarah. Hal itu, kata dia, berdasarkan amatan dirinya yang melihat sang suami terbaring lemas, mual-mual, keringat dingin, dan diikuti dengan demam tinggi sepanjang hari.

Oleh sebab itu, ia pun mengatakan perlu dilakukan pemeriksaan darah untuk memastikan penyakit yang diderita Surya.

“Dikasih obat yang biasa penurun panas. Bagaimana bisa?” imbuhnya.

“Harusnya di cek darah kalau mau pasti,” tambah dia.

Ia menjelaskan, seluruh tahanan politik dalam kasus dugaan makar tersebut berada dalam lingkungan rutan yang tidak manusiawi.

Beberapa hal yang ia terangkan, seperti keadaan rutan yang sudah kelebihan kapasitas (over capacity), ketersediaan air bersih untuk minum, hingga makanan yang menggunakan bahan raskin.

Kasus ini bermula dari dugaan makar menyusul pengibaran bendera bintang kejora di seberang Istana Kepresidenan, Jakarta, 28 Agustus.

Penangkapan beruntun terhadap enam orang dilakukan pada 30 dan 31 Agustus. Mereka kemudian ditetapkan sebagai tersangka kasus makar.

Pada 22 Oktober 2019, kuasa hukum keenam tersangka itu lantas mendaftarkan gugatan ke PN Jakarta Selatan. Tim Advokasi Papua menilai ada kesalahan prosedur dalam penetapan tersangka makar.

“Klien kami tidak pernah dipanggil sebagai saksi, namun tiba-tiba ditangkap dan disebut sebagai tersangka,” kata Oky Wiratama.

Enam aktivis Papua yang berstatus tersangka itu kini sudah diserahkan ke Kejaksaan per Senin lalu (18/11). Mereka akan segera disidang dalam kasus dugaan makar.

Pihak kepolisian sendiri mengaku sudah melakukan rangkaian proses itu sesuai prosedur. Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Argo Yuwono meminta semua pihak melihat faktanya nanti di persidangan.

han/uki

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.