KPK Periksa Ratusan Saksi dalam Dugaan korupsi PT Nindya Karya

Posted by:

Jakarta Jejaknews – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memeriksa ratusan saksi terkait penetapan PT Nindya Karya bersama PT Tuah Sejati sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembangunan dermaga bongkar pada kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas Sabang, Aceh, tahun anggaran 2006-2011.

“Hingga hari ini sekurangnya 128 orang saksi telah diperiksa dalam penyidikan kedua perusahaan ini,” ungkap Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, melalui pesan singkat, Sabtu (14/4/2018).

Febri memaparkan, para saksi yang sudah dimintai keterangan antara lain mulai dari pegawai negeri sipil (PNS) pensiunan dan pejabat di lingkungan Pemda Sabang, staf pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Aceh, dan staf, mantan staf serta Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS).

“Kemudian juga ada staf dan pejabat atau pengurus PT. Tuah Sejati, staf, Kepala Departeman Keuangan dan pejabat atau pengurus PT Nindya Karya, Direktur Utama PT. Kemenangan, Direktur Perencanaan PT. Trapenca Pugaraya, Direktur Utama PT. Cipta Puga, Direktur PT. Reka Multi Dimensi Karyawan PT BCP, Presiden Direktur PT. VSL Indonesia, Direktur CV. Total Disign Engineering, pegawai PT. Swarna Baja Pacific, Direktur PT. Adhimix Precast Indonesia, dan swasta lainnya,” papar Febri.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif mengumumkan penetapan tersangka terhadap PT Nindya Karya dan PT Tuah Sejati. Kedua korporasi ini diduga terlibat dalam perkara korupsi pada pelaksanaan pembangunan Dermaga Bongkar pada Kawasan Perdagangan Bebas dan pelabuhan bebas Sabang yang dibiayai APBN tahun anggaran 2006-2011.

“Setelah KPK melakukan proses pengumpulan informasi dan data, termasuk permintaan keterangan pada sejumlah pihak, dan terpenuhi bukti permulaan yang cukup, maka KPK melakukan penyidikan dugaan tindak pidana korupsi dengan tersangka PT NK (Nindya Karya) dan PT TS (Tuah Sejati),” kata Syarif, di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (13/4/2018).

Syarif mengatakan, penyidikan terhadap kedua korporasi tersebut sebagai tersangka merupakan pengembangan dari penyidikan perkara dengan para tersangka sebelumnya.

Syarif memaparkan, PT Nindya Karya dan PT Tuah Sejati melalui Heru Sulaksono selaku Kepala PT Nindya Karya cabang Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam merangkap kuasa Nindya Sejati Joint Operation diduga melawan hukum dan menyalahgunakan wewenang untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi dalam pengerjaan proyek senilai Rp793 miliar.

Akibatnya, kata Syarif, diduga terjadi kerugian negara sekitar Rp313 miliar dalam pelaksanaan proyek tersebut. Dugaan penyimpangan secara umum antara lain berupa penunjukkan langsung, Nindya Sejati Join Operation sejak awal telah diarahkan sebagai pemenang pelaksana pembangunan, dan rekayasa dalam penyusunan HPS dan penggelembungan harga (mark up).

“Diduga laba yang diterima oleh PT NK dan PT TS dari proyek multiyears ini sebesar Rp94,58 miliar, dengan masing-masing PT NK mendapat sekitar Rp44,68 miliar dan PT TS sekitar Rp49,59 miliar,” imbuh Syarif.

Keduanya disangka melanggar Pasal 2 ayat (1) dan atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

riy/nna

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.