Sosialisasi 4 Pilar di Klaten, HNW: Pancasila Bukan Semata Dihafal

Posted by:

Klaten Jejaknews – Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan, pihaknya menggunakan wayang kulit sebagai salah satu metode sosialisasi. Menurutnya, hal itu karena kesenian ini memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat, khususnya di Pulau Jawa. Dengan begitu, HNW berharap materi sosialisasi yang diselipkan di tengah pementasan wayang dapat dicerna dan diterima masyarakat luas. Apalagi, saat ini wayang sudah diterima sebagai kesenian tradisional bangsa Indonesia yang harus dipertahankan di tengah peradaban dunia.

Sejalan dengan hal tersebut, ia mengharapkan agar Pancasila bisa dicerna oleh masyarakat, sama halnya dengan wayang. Karena menurutnya, Pancasila bukan hanya semata untuk dihafal.

“Yang patut diingat, Pancasila bukan semata dihafal. Hafal sila-sila Pancasila, itu baik. Tapi lebih baik lagi jika dilaksanakan dalam kehidupan sehari hari,” kata HNW, Minggu (8/9/2019).

Hal itu disampaikannya saat membuka Pagelaran Wayang kulit dalam rangka sosialisasi Empat Pilar MPR di Desa Basin Kecamatan Kebonarum Kabupaten Klaten Jawa Tengah, Sabtu (7/9/2019). Acara tersebut digelar di Lapangan Sosrobaung, Desa Basin, Kecamatan Kebonarum.

Dalam prosesi pembukaan pagelaran wayang kulit tersebut, ditandai penyerahan tokoh Semar, oleh HNW kepada Dalang Ki Jatmiko Anom Saputro. Pementasan Wayang Kulit ini merupakan kerja sama MPR dengan Masyarakat Desa Basin. Penampilan Wayang Kulit mengetengahkan lakon Semar Mbangun Jiwa. Lakon dipilih karena sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya pasal 31.

Dalam kesempatan itu, HNW juga mengingatkan penyebutan istilah Empat Pilar MPR RI. Hal itu dilakukan karena sebelumnya terjadi kesalahan penyebutan istilah sosialisasi, baik oleh pembawa acara, maupun tokoh masyarakat yang menyampaikan sambutan pada acara tersebut.

Dulu, kata HNW, saat pertama sosialisasi pada 2005, kegiatan itu memakai istilah sosialisasi Empat Pilar berbangsa dan bernegara. Di tengah jalan, penggunaan istilah tersebut dilarang oleh Mahkamah Konstitusi.

Kemudian Majelis Permusyawaratan Rakyat mengubah istilah tersebut menjadi Sosialisasi Empat Pilar MPR. Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa, UUD NRI Tahun 1945 sebagai Konstitusi Negara, NKRI sebagai bentuk negara dan Bhinneka Tunggal Ika semboyan negara. Itulah istilah yang benar, dan diizinkan oleh MK, sehingga digunakan sampai sekarang.

Sebelumnya, Kepala Bagian Akomodasi dan Angkutan Sesjen MPR Purwadi, mewakili Kepala Biro Humas MPR dalam sambutannya mengatakan, Sosialisasi Empat Pilar dilakukan sejak 2005. Namun, penggunaan wayang kulit sebagai salah satu metode sosialisasi baru diselenggarakan pada 2012.

“Tujuannya agar materi sosialisasi lebih gampang diterima dan dicerna oleh masyarakat umum. Kemudian bisa dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Turut hadir pada acara tersebut, anggota MPR Fraksi PKS Abdul Kharis Almasyhari, Kepala Bagian Akomodasi dan Angkutan Sesjen MPR Purwadi, serta Kepala Dinas Kominfo dan Plt. Kabag Kesra Kabupaten Klaten Amin Mustofa. Selain itu juga hadir Camat Kecamatan Kebonarum Sutopo dan Kepala Desa Basin H. Mustafa Kamal.

**/riy

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.